Kamis, 11 Maret 2010

Kabupaten Tangerang


Kabupaten Tangerang merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Banten yang memiliki konsentrasi kegiatan ekonomi di sektor industri pengolahan. Kontribusi sektor ini pada pembentukan PDRB Kabupaten Tangerang mencapai 55,12 persen dengan nilai ekonomi lebih dari Rp 9,5 trilyun. Posisinya yang berdekatan dengan Jakarta, membuat kabupaten ini sebagai tempat alternatif bagi industri-industri yang tidak dapat di tampung oleh Jakarta. Sekitar 19 jenis industri terdapat di sana dan mampu memperkerjakan 187.767 tenaga kerja. Jumlah badan usaha yang beroperasi mencapai 930 unit. Jumlah yang cukup besar untuk sebuah kabupaten yang memiliki luas 1.110 km2 dengan jumlah penduduk 3.435.205 jiwa.

Sebagai wilayah yang mampu menampung banyak industri, maka secara alamiah merangsang berkembangnya fasilitas hiburan seperti hiburan malam, pusat perbelanjaan, gelanggang oleh raga dan restoran. Sektor ini berkembang cepat seiring dengan perkembangan usaha hotel dan biro perjalanan. Pertumbuhan sektor ini juga pada dasarnya menunjang pertumbuhan sektor perdagangan yang dari tahun ke tahun tumbuh secara drastis. Kontribusi sektor ini pada pembentukan PDRB Kabupaten Tangerang mencapai 13,9 persen dengan nilai ekonomi mencapai Rp 2,3 triliun.

Perdagangan memiliki nilai ekonomi besar di Kabupaten Tangerang akibat output industri berorientasi ekspor. Hampir semua negara maju menjadi tujuan ekspor seperti Jepang, Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Canada, Prancis, Jerman, Italia dan Inggris. Total transaksi ekspor terbesar dengan Amerika Serikat dengan nilai ekonomi mencapai US $ 19 juta. Sedangkan negara tujuan ekpor lainnya yang juga memiliki transaksi besar adalah Jepang dengan nilai ekonomi US $ 17 juta. Sedangkan negara maju lainnya yang juga menjadi tujuan ekspor Tangerang memiliki nilai ekonomi lebih dari US $ 1 juta sampai US $ 2 juta.

Sumber :
http://www.cps-sss.org/web/home/kabupaten/kab/Kabupaten+Tangerang+

Sumber Gambar:
http://kangjavas.files.wordpress.com/2009/12/peta-kab-tangerang1.jpg



Profil Kota Tangerang


Kota Tangerang memiliki letak yang sangat strategis. Di sebelah timur berbatasan dengan DKI Jakarta, sedangkan di sebelah utara, selatan dan barat berbatasan dengan Kabupaten Tangerang. Letak Kota Tangerang Secara gafis Kota Tangerang terletak pada posisi 106 36 - 106 42 Bujur Timur (BT) dan 6 6 - 6 Lintang Selatan (LS).

Letak Kota Tangerang tersebut sangat strategis karena berada di antara Ibukota Negara DKI Jakarta dan Kabupaten Tangerang. Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), Kota Tangerang merupakan salah satu daerah penyangga Ibukota Negara DKI Jakarta. Posisi Kota Tangerang tersebut menjadikan pertumbuhannya pesat. Pada satu sisi wilayah Kota Tangerang menjadi daerah limpahan berbagai kegiatan di Ibukota Negara DKI Jakarta.

Di sisi lain Kota Tangerang dapat menjadi daerah kolektor pengembangan wilayah Kabupaten Tangerang sebagai daerah dengan sumber daya alam yang produktif. Pesatnya pertumbuhan Kota Tangerang dipercepat pula dengan keberadaan Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang sebagian arealnya termasuk ke dalam wilayah administrasi Kota Tangerang. Gerbang perhubungan udara Indonesia tersebut telah membuka peluang bagi pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa secara luas di Kota Tangerang.

Kegiatan ekonomi Kota Tangerang sangat dipengaruhi oleh sektor industri pengolahan. Sebagian besar industri pengolahan ini terkonsentrasi di Kecamatan Jatiuwung.Berbagai jenis pabrik, mulai dari industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, kimia hingga industri logam dan barang dari logam, telah menanamkan modalnya di kecamatan tersebut. Sekitar 55 persen industri sedang dan besar Tangerang berada di Jatiuwung. Tidak heran bahwa kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tangerang itu harus dimekarkan menjadi tiga kecamatan, yaitu Jatiuwung sendiri, Cibodas, dan Periuk.Selain di Jatiuwung, beberapa industri besar seperti PT Argo Pantes dan PT Indofood berlokasi di Kecamatan Tangerang, tepatnya di Kelurahan Cikokol.Tentu saja dengan banyaknya industri pengolahan itu telah membuat konsentrasi tenaga kerja di Kota Tangerang menjadi sangat besar.


Sumber Data:
Banten Dalam Angka 2008
(01-10-2007)
PBS Provinsi Banten
Jl. Penancangan No.4 Serang 42124
Telp (0254) 202315
Fax (0254) 202315

Sumber :

http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=3671

Kota Tangerang Selatan


Kota Tangerang Selatan adalah salah satu kota di Provinsi Banten, Indonesia. Kota ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, pada 29 Oktober 2008. Kota ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang.


Sejarah

Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini masuk ke dalam Karesidenan Batavia dan mempertahankan karakteristik tiga etnis, yaitu Suku Sunda, Suku Betawi, dan Suku Tionghoa.

Pembentukan wilayah ini sebagai kota otonom berawal dari keinginan warga di kawasan Tangerang Selatan untuk menyejahterakan masyarakat. Pada tahun 2000, beberapa tokoh dari kecamatan-kecamatan mulai menyebut-nyebut Cipasera sebagai wilayah otonom. Warga merasa kurang diperhatikan Pemerintah Kabupaten Tangerang sehingga banyak fasilitas terabaikan.

Pada 27 Desember 2006, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang menyetujui terbentuknya Kota Tangerang Selatan. Calon kota otonom ini terdiri atas tujuh kecamatan, yakni, Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Cisauk, dan Setu.

Pada 22 Januari 2007, Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tangerang yang dipimpin oleh Ketua DPRD, Endang Sujana, menetapkan Kecamatan Ciputat sebagai pusat pemerintahan Kota Tangerang Selatan secara aklamasi.

Komisi I DPRD Provinsi Banten membahas berkas usulan pembentukan Kota Tangerang mulai 23 Maret 2007. Pembahasan dilakukan setelah berkas usulan dan persyaratan pembentukan kota diserahkan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah ke Dewan pada 22 Maret 2007.

Pada 2007, Pemerintah Kabupaten Tangerang menyiapkan dana Rp 20 miliar untuk proses awal berdirinya Kota Tangerang Selatan. Dana itu dianggarkan untuk biaya operasional kota baru selama satu tahun pertama dan merupakan modal awal dari daerah induk untuk wilayah hasil pemekaran. Selanjutnya, Pemerintah Kabupetan Tangerang akan menyediakan dana bergulir sampai kota hasil pemekaran mandiri.


Batas Wilayah

Utara : Kota Tangerang dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Selatan : Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Bogor dan Kota Depok)
Barat : Kabupaten Tangerang
Timur :  Provinsi Jawa Barat (Kota Depok) dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta


Pembagian Administratif

Kota Tangerang Selatan terdiri atas 7 kecamatan, yang dibagi lagi atas 49 kelurahan dan 5 desa.

Kecamatan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008, Kota Tangerang Selatan terdiri atas 7 (tujuh) kecamatan:


Serpong - dengan luas 24.04 km²
Serpong Utara -  dengan luas 17.84 km²
Ciputat  - dengan luas 18.38 km²
Ciputat Timur -  dengan luas 15.43 km²
Pondok Aren  - dengan luas 29.88 km²
Pamulang - dengan luas 26.82 km²
Setu - dengan luas 14.80 km²


Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tangerang_Selatan

Sumber Gambar:

http://www.primaironline.com/berita/detail.php?catid=Nusantara&artid=bantuan-korban-situ-gintung-dihentikan-pekan-depan




Asal Mula Nama Daerah Tangerang dan Penduduk Tangerang


Dulu bernama Tanggeran

Menurut tradisi lisan yang menjadi pengetahuan masyarakat Tangerang, nama daerah Tengerang dulu dikenal dengan sebutan Tanggeran yang berasal dari bahasa Sunda yaitu tengger dan perang. Kata “tengger” dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda” yaitu berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, sekitar pertengahan abad 17. Oleh sebab itu, ada pula yang menyebut Tangerang berasal dari kata Tanggeran (dengan satu g maupun dobel g). Daerah yang dimaksud berada di bagian sebelah barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung jalan Otto Iskandar Dinata sekarang). Tugu dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tugu tersebut tertulis prasasti dalam huruf Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya sebagai berikut:

Bismillah peget Ingkang Gusti
Diningsun juput parenah kala Sabtu
Ping Gasal Sapar Tahun Wau
Rengsena Perang nelek Nangeran
Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian
Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :


Dengan nama Allah tetap Maha Kuasa
Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu
Tanggal 5 Sapar Tahun Wau
Sesudah perang kita memancangkan Tugu
Untuk mempertahankan batas Timur Cipamugas
(Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian
Semua menjaga tanah kaum Parahyang



Sedangkan istilah “perang” menunjuk pengertian bahwa daerah tersebut dalam perjalanan sejarah menjadi medan perang antara Kasultanan Banten dengan tentara VOC. Hal ini makin dibuktikan dengan adanya keberadaan benteng pertahanan kasultanan Banten di sebelah barat Cisadane dan benteng pertahanan VOC di sebelah Timur Cisadane. Keberadaan benteng tersebut juga menjadi dasar bagi sebutan daerah sekitarnya (Tangerang) sebagai daerah Beteng. Hingga masa pemerintahan kolonial, Tangerang lebih lazim disebut dengan istilah “Beteng”.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sekitar tahun 1652, benteng pertahanan kasultanan Banten didirikan oleh tiga maulana (Yudhanegara, Wangsakara dan Santika) yang diangkat oleh penguasa Banten. Mereka mendirikan pusat pemerintahan kemaulanaan sekaligus menjadi pusat perlawanan terhadap VOC di daerah Tigaraksa. Sebutan Tigaraksa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan (tiga tiang/pemimpin). Mereka mendapat mandat dari Sultan Agung Tirtoyoso (1651-1680) melawan VOC yang mencoba menerapkan monopoli dagang yang merugikan Kesultanan Banten. Namun, dalam pertempuran melawan VOC, ketiga maulana tersebut berturut-turut gugur satu persatu.

Perubahan sebutan Tangeran menjadi Tangerang terjadi pada masa daerah Tangeran mulai dikuasai oleh VOC yaitu sejak ditandatangani perjanjian antara Sultan Haji dan VOC pada tanggal 17 April 1684. Daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Belanda. Kala itu, tentara Belanda tidak hanya terdiri dari bangsa asli Belanda (bule) tetapi juga merekrut warga pribumi di antaranya dari Madura dan Makasar yang di antaranya ditempatkan di sekitar beteng. Tentara kompeni yang berasal dari Makasar tidak mengenal huruf mati, dan terbiasa menyebut “Tangeran” dengan “Tangerang”. Kesalahan ejaan dan dialek inilah yang diwariskan hingga kini.

Sebutan “Tangerang” menjadi resmi pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Pemerintah Jepang melakukan pemindahan pusat pemerintahan Jakarta (Jakarta Ken) ke Tangerang yang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken seperti termuat dalam Po No. 34/2604. Terkait pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang tersebut, Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lahir pemerintahan Tangerang yaitu pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.



Asal Mula Penduduk Tangerang

Latar belakang penduduk yang mendiami Tangerang dalam sejarahnya dapat diketahui dari berbagai sumber antara lain sejumlah prasasti, berita-berita Cina, maupun laporan perjalanan bangsa kulit putih di Nusantara.

“Pada mulanya, penduduk Tangeran boleh dibilang hanya beretnis dan berbudaya Sunda. Mereka terdiri atas penduduk asli setempat, serta pendatang dari Banten, Bogor, dan Priangan. Kemudian sejak 1526, datang penduduk baru dari wilayah pesisir Kesultanan Demak dan Cirebon yang beretnis dan berbudaya Jawa, seiring dengan proses Islamisasi dan perluasan wilayah kekuasaan kedua kesultanan itu. Mereka menempati daerah pesisir Tangeran sebelah barat”.[1]

Orang Banten yang menetap di daerah Tangerang diduga merupakan warga campuran etnis Sunda, Jawa, Cina, yang merupakan pengikut Fatahillah dari Demak yang menguasai Banten dan kemudian ke wilayah Sunda Calapa. Etnis Jawa juga makin bertambah sekitar tahun 1526 tatkala pasukan Mataram menyerbu VOC. Tatkala pasukan Mataram gagal menghancurkan VOC di Batavia, sebagian dari mereka menetap di wilayah Tangeran.

Orang Tionghoa yang bermigrasi ke Asia Tenggara sejak sekitar abad 7 M, diduga juga banyak yang kemudian menetap di Tangeran seiring berkembangnya Tionghoa-muslim dari Demak. Di antara mereka kemudian banyak yang beranak-pinak dan melahirkan warga keturunan. Jumlah mereka juga kian bertambah sekitar tahun 1740. Orang Tionghoa kala itu diisukan akan melakukan pemberontakan terhadap VOC. Konon sekitar 10.000 orang Tionghoa kemudian ditumpas dan ribuan lainnya direlokasi oleh VOC ke daerah sekitar Pandok Jagung, Pondok Kacang, dan sejumlah daerah lain di Tangeran.. Di kemudian hari, di antara mereka banyak yang menjadi tuan-tuan tanah yang menguasai tanah-tanah partikelir.

Penduduk berikutnya adalah orang-orang Betawi yang kini banyak tinggal di perbatasan Tangerang-Jakarta. Mereka adalah orang-orang yang di masa kolonial tinggal di Batavia dan mulai berdatangan sekitar tahun 1680. Diduga mereka pindah ke Tangeran karena bencana banjir yang selalu melanda Batavia.

Menurut sebuah sumber, pada tahun 1846, daerah Tangeran juga didatangi oleh orang-orang dari Lampung. Mereka menempati daerah Tangeran Utara dan membentuk pemukiman yang kini disebut daerah Kampung Melayu (Thahiruddin, 1971)[2]. Informasi mengenai seputar migrasi orang Lampung, akan dibahas dalam tulisan ini di bagian bab berikutnya,

Di jaman kemerdekaan dan Orde Baru, penduduk Tangerang makin beragam etnis. Berkembangnya industri di sana, mengakibatkan banyak pendatang baik dari Jawa maupun luar Jawa yang akhirnya menjadi warga baru. Menurut sensus penduduk tahun 1971, penduduk Tangerang berjumlah 1.066.695, kemudian di tahun 1980 meningkat menjadi 1.815.229 dan hingga tahun 1996 tercatat mencapai 2.548.200 jiwa. Rata-rata pertumbuhan per-tahunnya mencapai 5,23% per tahun.

Untuk sekedar memetakan persebaran etnis-etnis di Tangerang, dapat disebutkan di sini bahwa daerah Tangerang Utara bagian timur berpenduduk etnis Betawi dan Cina serta berbudaya Melayu Betawi. Daerah Tangerang Timur bagian selatan berpenduduk dan berbudaya Betawi. Daerah Tangeran Selatan berpenduduk dan berbudaya Sunda. Sedang daerah Tangeran Utara sebelah barat berpenduduk dan berbudaya Jawa[3]. Persebaran penduduk tersebut di masa kini tidak lagi bisa mudah dibaca mengingat banyaknya pendatang baru dari berbagai daerah. Maka, apabila ingin mengetahui persebaran etnis di Tangerang, tentunya dibutuhkan studi yang lebih mendalam.


Jakarta, 23 April 2008


[1] Halim, Wahidin. Ziarah Budaya Kota Tangeran Menuju Masyarakat Berperadaban Akhlakul Karimah, Tangerang, 2005

[2] Migrasi orang Lampung ke Tangerang, diduga terkait perlawanan penguasa Lampung terhadap pemerintahan kolonial pada tahun 1826. Perlawanan ini di pimpin Raden Imba dari Keratuan Darah Putih. Tahun 1826 sampai dengan 1856 merupakan masa perang Lampung (Perang Raden Intan). Namun sayang, pada tanggal 5 Oktober 1856 Raden Intan II gugur dalam peperangan menghadapi tentara jajahan dibawah pimpinan Kolonel Waleson. Perang Lampung pun akhirnya berakhir. (Bandingkan Ekadjati, Edi S. Sejarah Kabupaten Tangerang, Pemda Tangerang: 2004, halaman 110)

[3] Ibid


Sumber :

Ign. Taat Ujianto

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=7834

24 April 2008


Sumber Gambar:

http://forum.detik.com/showthread.php?t=38363&page=2


Peta Tangerang


View Larger Map

"Heritage Trail" ke Pecinan Tangerang


Libur panjang di akhir pekan ini barangkali bisa jadi kesempatan Anda untuk mengajak putra-putri lebih mengenal sejarah dan budaya yang ada di Jabodetabek. Masih dalam rangka Imlek dan Cap Go Meh, Komunitas Historia Indonesia (KHI) menggelar “Tangerang Heritage Trail” bertema “Menelusuri Sejarah, Menguak Jejak Tionghoa Benteng di Tangerang” pada Sabtu 27 Februari 2010.

Kenapa Tangerang? Menurut Ketua KHI, Asep Kambali, sederhana saja, karena orang di Jakarta mungkin banyak yang belum tahu bahwa ada kantong Pecinan lain di luar Jakarta, salah satunya, Tangerang. “Jadi kita mau ajak orang, siapa aja yang barangkali belum pernah ke Tangerang, ayo kita lihat ke sana. Di Tangerang kan juga ada Pecinan dan menurut saya lebih bagus ya, lebih kuat Pecinannya,” tandasnya. Selain Jakarta, KHI, imbuhnya, akan terus berusaha menggali kekayaan sejarah dan budaya kota lain.

Rute trail Sabtu nanti antara lain Sungai Cisadane, Klenteng Boen San Bio, Perkampungan Sewan Kongsi, Bendungan Pintu Air 10, Pameran Imlek Klenteng Tjong Tek Bio, dan Klenteng Boen Tek Bio. “Kita berangkat naik kereta api dari Stasiun Beos. Kumpul di Taman Fatahillah jam 6 pagi. Dari Beos kita naik KRL Benteng Ekspress turun di Stasiun Tangerang, baru kita mulai jalan di sana. Saya berharap semua peserta tepat waktu karena KRL Benteng Ekspress berangkat tepat waktu. Kita kan perlu registrasi, beli tiket, dll, jadi mohon peserta tepat waktu, ” Asep berpesan, tiket seharga Rp 65.000/orang dan bisa menghubungi no HP 0818 0807 3636.

Sementara itu, menurut salah satu anggota KHI yang juga akan memandu perjalanan, Rinus, ada beberapa versi kisah kedatangan Tionghoa di Tangerang. Satu versi mengatakan, sebutan Cina Benteng tidak lepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun di pusat Kota Tangerang, tepatnya di tepi Sungai Cisadane, pada zaman kolonial Belanda itu sekarang sudah rata dengan tanah. Pada saat itu, banyak orang Tionghoa Tangerang yang kurang mampu, harus tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul istilah "Cina Benteng".

“Versi lain dari kitab Sejarah Sunda, "Tina Layang Parahyang" artinya Catatan dari Parahyangan, yang sudah menyebut daerah muara Sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara Sungai Cisadane pada tahun 1407. Tujuan awalnya Jayakarta,” lanjut Rinus, saat itu mereka menyebut wilayah Tangerang dengan nama "Boen-Teng". Berawal dari sebutan itulah mereka kemudian dijuluki Cina Boen Teng. Julukan itu lama-kelamaan berubah menjadi Cina Benteng yang mayoritas warganya menjalani kehidupan sebagai pedagang kecil, petani, buruh informal atau pencari ikan di pinggir kali.

Di Tangerang, masyarakat Tionghoa telah menyatu dengan penduduk setempat dan mengalami pembauran lewat perkawinan sehingga warna kulit mereka terkadang lebih gelap dari Tionghoa yang lain. Istilah buat mereka tak lain adalah “Cina Benteng”. Keseniannya yang masih ada disebut Cokek, sebuah tarian dengan iringan paduan musik campuran Cina, Jawa, Sunda, dan Melayu.

Gelombang kedua kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang diperkirakan terjadi setelah peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740. Belanda, VOC, yang berhasil memadamkan pemberontakan tersebut mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang untuk bertani. Pemukiman bagi orang Tionghoa berupa pondok-pondok yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Aren, dan sebagainya. Di sekitar Tegal Pasir (Kali Pasir), Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan telah menjadi bagian dari Kota Tangerang. Daerah ini terletak di sebelah timur Sungai Cisadane, daerah Pasar Lama sekarang.

Beberapa lokasi yang bakal disambangi antara lain, Perkampungan Sewan Kongsi. Kampung ini merupakan salah satu perkampungan Tionghoa Benteng yang masih ada di Tangerang. Asal kata ‘Sewan’ sendiri berasal dari kata ‘Sewaan’ yang diadaptasi sesuai logat masyarakat setempat. Disebut ‘Sewaan’ karena pada zaman kolonial, daerah ini seluruhnya disewakan kepada para tuan tanah, terutama etnis Tionghoa, untuk berkebun. Lokasinya berada di belakang Bendungan Pintu Air 10. Arsitektur rumah di sini masih tradisional.

Lokasi lain adalah Bendungan Pintu Air 10. Itu sebenarnya adalah Bendungan Air Sangego atau Bendungan Pintu Air Pasar Baru di Kecamatan Neglasari. Dibangun pada tahun 1927 dan mulai dioperasikan pada tahun 1932 untuk irigasi.

Klenteng Boen Tek Bio, adalah sasaran lainnya. Klenteng ini berdiri sekitar 1750. Penghuni Petak Sembilan secara gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah kelenteng yang diberi nama Boen Tek Bio. (Boen=Sastra Tek=Kebajikan Bio=Tempat Ibadah). PAda awalnya Bio ini hanya berupa tiang bambu dan beratap rumbia, awal abad 19 barulah menjadi kelenteng seperti sekarang ini. Kelenteng inilah yang sejak 1911 menggelar pesta Petjun, lomba balap perahu, di Sungai Cisadane. Kemudian Orba melarang pesta budaya itu. Boen Tek Bio juga punya tradisi mengarak Toapekong, “Gotong Toapekong” dan menggelar wayang langka, Wayang Potehi.

Sumber :

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto, dalam :

http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2010/02/24/08035995/Heritage.Trail.ke.Pecinan.Tangerang

24 Februari 2010


Industri di Tangerang Terancam Bangkrut

Ratusan perusahaan industri di Tangerang terancam gulung tikar, menyusul rencana Perusahaan Gas Nasional (PGN) untuk menaikkan harga dan mengurangi pasokan gas untuk kalangan industri. “Ini ancaman serius yang mengganggu sektor riil,” kata Bendahara Asosiasi Pengusaha Indonesia Kabupaten Tangerang Andi Laurus kemarin.

Kebijakan itu, kata Andi, membuat pengusaha melakukan efisiensi agar tetap bisa berproduksi. Efisiensi yang mungkin dilakukan antara lain mengurangi produksi atau mengurangi jumlah tenaga kerja. “Jadi akan memberikan efek domino,” katanya.

Rencana PGN mengurangi pasokan gas disampaikan melalui surat edaran tertanggal 24 Februari 2010. Dalam surat itu diberitahukan bahwa pasokan gas dikurangi 20 persen mulai April mendatang. Selain itu, PGN menaikkan harga gas untuk sektor industri sebesar 60 persen.

Menurut Andi, kalangan industri di Tangerang mulai menggunakan gas setelah terjadi krisis energi listrik nasional, empat tahun lalu. Bisa dikatakan saat ini industri sudah terbiasa dan memiliki ketergantungan pada gas.

Di Tangerang, industri skala menengah bisa menggunakan gas 300-500 meter kubik per bulan (1 mmbtu=27 meter kubik) per bulan. Industri menengah misalnya pabrik pembuatan makanan. Sedangkan industri berskala besar, seperti keramik, kaca, dan besi, bisa menghabiskan 3.000 hingga 5.000 meter kubik per bulan. “Pemakaian gas di pabrik keramik, besi, dan kaca bisa mencapai 10 kali lipat,” kata Andi.

Rencana PGN mengurangi pasokan dan menaikkan harga gas itu tentu saja membuat pengusaha kalang-kabut. Dalam sepekan terakhir Apindo kebanjiran pengaduan dari pengusaha. “Hingga hari ini, ada 52 pengaduan yang masuk,” kata Andi.

Salah satu keberatan itu disampaikan Asosiasi Pengguna Gas wilayah Serpong. Asosiasi ini terdiri atas PT SK Keris, PT Indah Kiat, PT Pratama, PT Surya Toto, PT Tifico, PT Argo Pantes, PT Manunggal Energy Nusantara, PT Sulindafin, dan PT Surya Siam Keramik.

Dalam suratnya, asosiasi menilai kebijakan penurunan pasokan gas itu akan berdampak sangat serius terhadap kelangsungan hidup perusahaan. Dampak buruk itu nantinya bisa berujung pada pemutusan hubungan kerja.

Sumber:

http://www.korantempo.com dalam :

http://korantangerang.com/?p=365, 9 Maret 2010


Tangerang Pantau 20 Perusahaan Terancam Bangkrut

Pemerintah Kabupaten Tangerang terus memantau perkembangan dan kondisi 20 perusahaan diwilayah itu yang kini terancam bangkrut. Langkah ini dilakukan agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja secara massal.

”Perkembangannya terus kami pantau,” ujar Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Kesejahteraan Pekerja Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang Monang Panjaitan kepada Tempo dikantornya, Kamis (27/11).

Monang mengatakan, hingga saat ini kondisi masing-masing perusahaan semakin goyang dengan ditandai merosotnya produksi yang mencapai 60 hingga 70 persen. ”Terus merosot tajam," katanya. Penurunan drastis dilihat dari pengurangan produksi, sepinya order hingga efisiensi yang dilakukan perusahaan.

Menurut Monang, ke 20 perusahaan tersebut melaporkan ke Dinas tenaga Kerja setelah lebaran tahun ini, tepatnya ketika krisis keuangan global menimpa semua sektor termasuk sektor industri dan perdagangan. ”Mereka mengajukan efisiensi, perumahan karyawan hingga pemecatan karyawan,” katanya.

Dari 20 Perusahaan tersebut, kata dia, dua diantaranya telah memberhentikan karyawannya sejumlah 2.740 orang. Sementara sejumlah perusahaan lainnya ada yang telah merumahkan karyawannya.

Melihat gejolak penurunan produksi yang saat ini terjadi, Monang memperkirakan, akan ada sembilan perusahaan lagi yang akan tutup hingga akhir tahun ini. (Joniansyah)


Sumber :

http://www.tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2008/11/27/brk,20081127-148440,id.html

27 November 2008